Ahmad Tohari di Kedai Realisme

Almarhum Pak Nur

Di kelas tiga SMA (2004-2005), saya sudah mengenal Ahmad Tohari. Lewat guru bahasa dan sastera Indonesia sekaligus wali kelas saya, almarhum Nur Asifudin, yang kami sapa pak Nur. Seingat saya, di awal pembahasan tentang Ahmad Tohari, guru yang hobi berpeci hitam itu banyak memaparkan kelemahan yang ada di novel Ronggeng Dukuh Paruk. Singkatnya sosok Rasus yang terlalu sempurna secara ilmiah, mengingat Rasus tidak sekolah dan ada di desa terbelakang di Banyumas. Jadilah novel itu yang pertama saya baca gara-gara bocoran pak Nur tadi. Beda dengan menonton film, spoiller di novel ternyata membantu saya berlaku (lebih) adil, tentunya dengan kacamata anak bau kencur yang belum lama mengenal fiksi (baca: setahun sebelumnya saya sudah mengenal karya-karya Seno Gumira/SGA). Justeru saya menganggap penggambaran Rasus yang tahu sains sebagai alur maju-mundur yang tidak kentara dan sengaja mengganggu reader’s discretion.

Beberapa bulan kemudian pak Nur membeberkan bahwa berkat analisa terhadap novel itulah, akhirnya beliau berhasil mendapatkan gelar Master. Saat mengajar kami, beliau juga sudah jadi dosen. Beruntungnya kami diajar dengan gaya mahasiswa. Sehingga kami lebih banyak baca karya, lalu menulis, dan menganalisa. Saya menduga memang ada love-hate relationship yang dibangun guru favorit kami itu dengan gaya menulis AT. Lanjutkan membaca “Ahmad Tohari di Kedai Realisme”

Iklan